Down to earth psychology. Inilah impian saya terhadap psikologi, ilmu yang saya cintai. Sebuah ilmu yang saya pelajari secara formal selama 3 tahun 8 bulan dan tetap menyisakan berbagai pertanyaan dalam benak saya. Itulah sebabnya, secara informal saya tidak pernah berhenti menjadi seorang mahasiswa psikologi meskipun tidak lagi di UGM, tapi di Universitas Kehidupan.
Saya mencintai ilmu ini karena pelajaran pertama yang ia berikan di hari pertama saya masuk: Who Am I? Tugas yang diberikan ketika OPSPEK itu ternyata menyentil saya untuk mempertanyakan hal yang sama sekali belum pernah ada dalam benak saya hingga saat itu. Jurusan yang tidak benar-benar saya pilih dengan sepenuh hati pada akhirnya justru membawa saya pada penemuan yang mencerahkan tentang untuk apa saya diciptakan di dunia.
Loh, kok jadi serius ya?
OK, singkat cerita, psikologi menjadi semakin menarik bagi saya karena ini adalah studi tentang diri saya sendiri. Diri saya ketika sendirian, bersama beberapa orang, dalam organisasi, di tengah-tengah masyarakat, dan seterusnya. Sebuah studi yang menyenangkan karena lab-nya ada di mana-mana dan bisa diakses kapan saja. Tidak mengherankan, sekalipun saya memilih bidang industri dan organisasi sebagai fokus minat saya, bidang-bidang lain serasa tidak mau lepas dari pengamatan saya.
Layaknya orang jatuh cinta, saya pun jadi ingin selalu menceritakan kisah cinta saya kepada banyak orang untuk berbagi kebahagiaan. Sayangnya, psikologi yang saya pelajari tidak cukup familiar dalam benak banyak orang. Belum lagi perbedaan beragam sudut pandang dari masing-masing teori yang tak selalu mudah untuk dijelaskan dalam waktu singkat. Jadilah saya putar otak agar ilmu kecintaan saya yang seharusnya menjadikan setiap orang dapat berfungsi secara efektif ini bisa lebih membumi.
Inilah titik di mana saya pada akhirnya menemukan NLP alias Neuro-Linguistic Programming. Diawali oleh sebuah buku terjemahan berjudul NLP: Teknologi Baru Meraih Sukses tulisan Steve dan Connie Andreas, saya berkenalan dengan ilmu yang satu ini. Amat disayangkan, terjemahan yang begitu buruk membuat saya kurang minat untuk membacanya lebih jauh. Beruntung, tak berapa lama, Mas Ronny F. Ronodirjo diundang ke kampus untuk mengisi seminar mengenai NLP. Menjadi panitia tanpa disengaja (karena diminta tolong menjemput Mas Ronny dari bandara) saya akhirnya jatuh cinta lagi kepada NLP.
Perjalanan saya pun berlanjut, saya menemukan bahwa NLP hakikatnya adalah psikologi juga. Bedanya, psikologi adalah kumpulan dari beragam konsep dengan beraneka sudut pandang yang terkadang saking fanatiknya menjadi seolah-olah bertentangan. Jadilah para mahasiswa seringkali terjebak dalam 2 kubu: kebingungan dan akhirnya tidak bisa mengaplikasikan atau fanatik pada 1 pandangan dan mengabaikan pandangan lain. Sisi lain, NLP dibangun dengan metode modelling terhadap orang-orang yang amat ahli di bidangnya. Efeknya, ilmu ini menjadi amat praktis, mudah dipahami, dan terintegrasi antar bagiannya.
Demikianlah, menemukan NLP rupanya menjadi awal pencerahan terhadap impian saya tentang down to earth psychology. Saya tidak perlu mengajarkan teori-teori psikologi yang njelimet tapi cukup dengan konsep-konsep NLP yang simple namun tanpa kehilangan kedalamannya akan pemahaman tentang beragam fenonema manusia.
So, mengapa pula saya mengatakan Street Smart NLP? Bukankah NLP itu sendiri seringkali dianggap sebagai street smart?
Saya katakan Street Smart NLP sebab saya bukanlah praktisi NLP yang ‘anak sekolahan’ alias tersertifikasi—setidaknya sampai saat ini. Memang ada keinginan juga ke arah sana, namun saat ini itu belum menjadi prioritas. Karena itulah saya pelajari NLP dari beragam sumber yang terjangkau, mulai dari buku yang diterbitkan, buku rekan yang saya fotokopi, e-book dari internet, artikel-artikel dari website, dll. Intinya, saya belajar NLP dari ‘jalanan’. Ini pulalah yang mengantarkan saya untuk menggagas Street Smart NLP: beberapa trainer NLP yang saya kenal masih memasang harga yang cukup mahal untuk mempelajari ilmu mereka.
Ups, saya tidak bermaksud menyindir mereka yang bertarif mahal loh. Sah-sah saja menurut saya menjadikan NLP (dan olahannya) menjadi mata pencaharian. Saya hanya sekedar ingin mewujudkan impian saya tadi kok.
Nah, Anda masih berminat bergabung dengan saya sampai disini? Jika tidak, silakan segera beralih ke website lain sebelum waktu Anda terbuang percuma. Jika ya, maka mari kita sama-sama kibarkan Indonesia NLP Society dengan merek Street Smart NLP: NLP for Everyone. Pada tulisan selanjutnya, saya akan bahas langkah demi langkah konsep dan aplikasi NLP yang saya pelajari.
See you…!
Wah bagus juga idenya, terutama untuk orang spt aku yg sdh bosan kuliah tapi gak bosan belajar. Sekalian di daftarkan saja bung mereknya, biar gak di komersilkan orang lain.
Ha..ha..bagus juga ide patennya. Saya akan cari informasi mengenai hal ini. he..he..
Wah, kalau saya senang belajar dan senang kuliah juga. Pernah ada masanya saya lebih sedang belajar dengan membaca, karena memungkinkan saya untuk merefleksi sekaligus apa yang saya pelajari. Namun saya juga menyadari, apa yang ditulis oleh seorang guru ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan yang ia kuliahkan. So, jadilah saya tetap senang ikut kuliah, seminar, training, dsb karena pasti ada hal2 spontan yang ia tidak tuliskan di buku.
Salam Street Smart NLP!
Teddi
Saya kenal NLP waktu semangat2nya ikut salah satu MLM. Dulu blm banyak artikel NLP dlm bhs Indonesia. Shg tidak terlalu serius mempelajarinya.
Sekarang setelah beberapa thn sejenak melupakan NLP, ternyata bisikan bathin mengantarkan saya untuk search di Internet materi2 NLP lagi. Ternyata sudah banyak artikel NLP dlm bhs Indonesia dan juga ketemulah blog ini. Terimakasih atas sharing-sharingnya.
Salam Kenal
Fuad Muftie
Selamat datang Mas Fuad…
Salam kenal, sesama pembelajar NLP. Silakan menikmati artikel2 yang tersaji di sini…juga bergabung di milis…
Semoga bermanfaat..
Salam Street Smart NLP!
Teddi
Assalamualaikum Wr. Wb,
Terimakasih atas hidangan yang disajikan, nikmat tapi tidak mengenyangkan
salam
Ronny