Seorang kawan pernah berkata kepada saya ketika saya jelaskan kepadanya tentang ’bersahabat’ dengan unconscious kita, “Bersahabat dengan unconscious? Memang bisa ya? Bagaimana caranya, wong sadar aja nggak?”
Seperti telah saya jelaskan pada artikel sebelumnya, meskipun disebut sebagai unconscious, bukan berarti ia adalah tempat yang sama sekali tidak bisa kita jamah. Memang, bagi kita yang belum terbiasa apalagi amat sangat rasional bisa jadi hal seperti ini amat sulit untuk dilakukan untuk pertama kali. Dalam sebuah latihan bersama teknik six steps reframing, misalnya, seorang rekan sangat kesulitan untuk menemukan sinyal tanda bersedia dari bagian (part) yang diajak berkomunikasi. Tidak mengherankan, sebab ia memang terbiasa dan membiasakan diri untuk berpikir dan bertindak berdasakan perhitungan yang mendetil tanpa mempedulikan ’suara-suara’ yang muncul dari hati kecilnya.
Recent Comments